Gimana siy bikin “Bahagia” ???

“Kebanyakan orang akan bahagia ketika mereka memaksa pikiran mereka untuk ‘merasa’ bahagia.” Abraham Lincoln

KESEMPURNAAN DAN KEBAHAGIAAN
Jika kita tidak bahagia, hal ini disebabkan hidup tidak berjalan sebagaimana yang kita inginkan. Kita tidak bahagia karena hidup tidak tepat menyerupai gambaran yang “seharusnya”. Karena itu pula kita kemudian berkata, “Saya akan bahagia jika….”
Memang sulit untuk benar-benar meresapi ini, tetapi hidup ini TIDAK lah sempurna. Dalam hidup, ada saatnya senang, ada kalanya frustrasi. Terkadang hidup berisi keberhasilan dan di saat lain dipenuhi dengan kegagalan. Selama kita masih bicara, “Saya akan bahagia jika…,” artinya kita hanya menolak dan menunda kebahagian kita sendiri.
Kebahagiaan adalah sebuah keputusan, dan setiap orang memiliki keputusan yang harus diambil. Apakah kita siap untuk mengingatkan diri kita sendiri setiap hari bahwa kita memiliki waktu yang amat terbatas untuk memanfaatkan sebaik mungkin apa yang kita punya? Atau akankah kita melewati saat ini begitu saja dengan hanya terus mengharapkan masa depan yang lebih baik?
Dunia memang tidak “sempurna”. Derajat ketidakbahagiaan kita adalah jarak antara bagaimana segala sesuatu apa adanya dan bagaimana segala sesuatu “seharusnya”. Jika kita berhenti menuntut segala sesuatu untuk selalu sempurna, maka akan lebih mudah bagi kita untuk merasa bahagia. Kita bisa saja memilih untuk memiliki harapan tertentu terhadap bagaimana segala sesuatu SEBAIKNYA terjadi, namun sekaligus memutuskan jika harapan tersebut tidak terpenuhi, apapun yang terjadi, kita tetap akan merasa bahagia.
TIPS & BAHAN RENUNGAN
Menjadi bahagia terkadang merupakan pekerjaan berat. Layaknya menjaga sebuah rumah agar tetap menyenangkan – Anda harus mempertahankan hal-hal berharga yang Anda miliki, dan membuang jauh ‘sampah-sampah’ Anda. Menjadi bahagia membutuhkan upaya mengumpulkan hal-hal baik. Misalkan ketika dua orang memandang ke arah yang sama, satu orang melihat pemandangan yang indah, sementara seseorang yang lain hanya melihat jendela yang kotor. Andalah yang memilih apa yang Anda lihat dan Anda pula yang memilih apa yang Anda pikirkan.
Berikut adalah sejumlah petunjuk praktis yang cukup bermanfaat dan tidak terlalu sulit diterapkan untuk membantu mempercepat hadirnya kebahagiaan yang Anda “cari”.
1. Waktu tidak sungguh-sungguh ada. Ia hanyalah sebuah konsep abstrak dalam benak kita. Satu-satunya waktu yang kita miliki adalah waktu yang ada saat ini. Maka berbuatlah sesuatu saat ini juga. Hiduplah di SAAT INI.
2. GUNAKAN setiap kesempatan. Pesan pertama mengajarkan kita untuk hidup di saat ini. Maka, sambil Anda menunggu sesuatu (di luar kendali Anda) terjadi, berbuatlah sesuatu yang lain. Dengan berbuat demikian Anda menunjukkan adanya jarak tertentu antara diri Anda dengan hasil akhir yang mungkin terjadi. Artinya, Anda tidak melulu dihantui oleh perasaan ‘harap-harap-cemas’, menanti hasil yang tidak bisa Anda kontrol dengan tidak berbuat sesuatu apapun. Membiarkan situasi mengalir apa adanya akan “mempercepat” hasil.
3. Menyalahkan dan perasaan bersalah, keduanya sama berbahayanya dan memiliki efek merusak yang setara. Saat menyalahkan Tuhan, orang lain dan diri sendiri, kita sesungguhnya menghindari topik utama yakni MELAKUKAN SESUATU terhadap problem yang ada. Adalah pilihan kita sendiri untuk membelenggu diri dengan bersumpah serapah dan memikirkan masa lalu, atau melanjutkan hidup dengan hidup di saat ini.
4. Malapetaka tidaklah sedemikian menghancurkannya jika kita MENGATASINYA BAGIAN PER BAGIAN pada saatnya masing-masing, bukan sekaligus pada saat bersamaan. Selain itu, semakin cepat kita mengenali apa yang bisa kita dapatkan dari pengalaman, semakin mudah kemalangan itu dihadapi.
5. Hidup ini tidaklah sedemikian seriusnya. Maka, seriuslah ber-HUMOR. Ketika kita tertawa, semua hal menyenangkan akan memberi manfaat positif terhadap jiwa maupun raga kita. Otak akan melepaskan endorfin yang dapat memberi efek “bius” alami – dijamin bebas efek samping, sementara sistem pernapasan akan memperoleh efek latihan yang setara dengan yang kita dapatkan melalui jogging.
6. Kazantzakis mengatakan, “Anda memiliki kuas dan warna-warna. LUKISLAH SURGA, dan kemudian MASUKLAH Anda ke dalamnya.” Mulailah Anda memutuskan untuk membuat kebahagiaan Anda sendiri.
7. … dan…, BOOM! … berbahagialah Anda….

* Tulisan yang sama bisa Anda jumpai di websitenya LPTUI *
Disadur dari “BEING HAPPY” – A Handbook to Greater Confidence & Security, Chapter 2,
Andrew Matthews, 1994.
Oleh Ira Setiari S.

6 Tanggapan

  1. Siip🙂

    Kebahagiaan adalah tidak adanya ketidak-bahagiaan. Ketidak-bahagiaan adalah keadaan di mana hadir kekhawatiran dan atau ketakutan.

    “Ya… Yang Maha Pengasih, berilah aku kekuatan untuk menyelesaikan hal-hal yang bisa aku selesaikan, berilah aku kelapangan hati untuk menerima hal-hal yang tidak bisa aku selesaikan, dan berilah aku kebijakan untuk dapat membedakan antara keduanya, Amin”

  2. @ Irawan
    Guud…
    tambahan lagi.. Banyak2 bersyukur kalee..
    n bisa membedakan antara kebutuhan dg keinginan..🙂

    aq AMIN-i untuk doamu..🙂

    ttg doa jg, ada wise word-nya Ir.. Katanya Allah akan mengabulkan permohonan kita lewat 3 cara:
    1. langsung bilang ya, & dikabulkan
    2. bilang ‘ntar dulu’.. & mengabulkannya di saat yg tepat
    3. bilang ‘tidak’.. namun menggantinya dg yg lebih baik 🙂

  3. wow… ada kolom islam juga… indra permisi nimbrung nggih… bahagia ya misskey…
    bahagia…

    bahagia tu bukan rasio ya… jadi ia tidak dapat dinilai dengan skala, apalagi skala moneter…

    mmmm… bahagia…???

    meridhoi ridhonya Alloh ya…

    mmmm… alias bersyukur…🙂

    gimana?

  4. oiya misskey… what is the difference antara kebutuhan dengan keinginan?

    pake misal aja y Ndra… Butuh makan, pingin makan sop buntut.
    kaitannya dg tingkat kepuasan n rasa bersyukur… Pd kasus 1, klo dah bs makan dah seneng. Kasus 2, bs makan pun blom bs bikin dia seneng.. krn dia pny ekspektasi yg lbih tinggi, yaitu gak cm makan, tp pengen sop buntut… so, klo cm dpt tempe tentu dia bakal gak puas, kurang seneng… getow…
    Menurutmu Ndra?

  5. indra pikir standar yang berbeda digunakan dalam menentukan sesuatu itu kebutuhan atau keinginan… Generally Acceptednya ga ada… begini, bagi seseorang, untuk berkendara dengan menggunakan mobil adalah sebuah keinginan, namun, bagi orang lain, boleh jadi, sudah merupakan kebutuhan sehari-hari… see… kemudian muncul main issue, yaitu, ketika seseorang menerapkan standar yang dianutnya untuk menilai orang lain… naaah… jadi pembedaan kebutuhan dan keinginan adalah spesifik tiap-tiap individu… indra setuju ama misskey, tingkat kepuasan boleh jadi merupakan satu indikator yang dapat membedakan kebutuhan dengan keinginan… the next question should be… betulkah bahwa kebutuhan adalah hal-hal yang dapat memenuhi standar kepuasan yang paling rendah? piye iki misskey…

    tetep aja lah Ndra… namanya org klo dah terlalu biasa di “zona nyaman”… gak bs/kesulitan unt membedakan antara kebutuhan dg keinginan… Klo mreka maw “kembali ke titik NOL”.. baru mreka tau harkat&martabat manusia yg sejatinya.. Baru tuw rasa syukur bener2 diresapi…

  6. emmphht…
    tapi mana mungkin saya bisa masuk dalam lukisan ku sendiri,,
    hanya keajaiban yang bisa menyatakannya…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: