Evo Morales_Bolivia

EVO MORALES


Oleh Coen Husain Pontoh



Para aktivis gerakan sosial, khususnya yang bergerak di sektor sumberdaya air, sedikit banyak pasti pernah mendengar dua kata ini: Cocachamba dan Cocaleros. Cocachamba adalah sebuah tempat di Bolivia, yang menjadi pusat perlawanan terhadap kebijakan privatisasi air yang digelar rejim neoliberal negeri itu. Sedangkan Cocaleros adalah sebutan bagi para penduduk asli suku Indian, yang umumnya adalah petani coca. Mereka adalah aktor utama dari perlawanan terhadap kebijakan yang didiktekan oleh Bank Dunia dan IMF. Cocachamba dan Cocaleros, telah menjadi salah satu ikon bagi perjuangan rakyat di seluruh dunia dalam melawan kebijakan neoliberal.

 

Tetapi, di samping  dua kata itu, muncul nama lain yang bersinar terang di langit Bolivia. Dialah Juan Evo Morales Aima, yang oleh pendukungnya cukup disapa Evo. Lelaki kelahiran 26 Oktober 1959 di Aymara, Bolivia, adalah anak suku Indian pertama yang menjadi presiden di salah satu negeri termiskin di Amerika Latin. Dengan berkendara Partai Gerakan Menuju Sosialisme (Movement Toward Socialism/MAS), pada 22 Desember lalu, Evo ditahbiskan sebagai pemenang pemilu Bolivia.  Jumlah suara yang diperolehnya mencapai 53,899 %. Jumlah ini melampaui angka perolehan suara yang diraih oleh  Jorge Tuto Quiroga, mantan wakil presiden di bawah diktator  Hugo Bánzer, dan  Samuel Doria Medina, salah satu orang terkaya di negeri itu. Dengan perolehan suara mayoritas, Evo dipastikan tak membutuhkan lagi pemungutan suara di Kongres untuk mengesahkannya sebagai presiden Bolivia berikutnya.

 

Apa sebenarnya yang menarik dari kemenangan Evo Morales ini? Bukankah pemilu adalah sebuah peristiwa biasa, sebuah proses yang wajar dari sebuah negara yang menganut sistem politik demokrasi? Menariknya, justru muncul dalam sosok Evo sendiri dan sejarah perjuangan rakyat Bolivia keseluruhan. Sejarah panjang dalam menentang kolonialisme, neoliberalisme dan campur tangan pemerintah AS yang sangat besar di negeri itu. Sejarah rakyat yang terpinggirkan akibat dogma kemaslahatan pasar bebas. Evo adalah salah satu figur yang berada di garis depan perlawanan itu. Ia tidak saja menyuarakan kepentingan masyarakat adat Indian yang merupakan populasi terbesar penduduk Bolivia tapi, juga terlibat aktif dalam
mengorganisir, menggerakkan, dan memimpin perlawanan rakyat tersebut.

 

Sebelum terjun dalam arena perjuangan elektoral, Evo Morales adalah anggota dari gerilya bersenjata Tupac Katari, pada tahun 1990an. Keterlibatannya itu, mengantarkan dirinya ke penjara selama lima tahun. Selepas masa kurungan, sosok Evo tampil sebagai figur pembela kepentingan masyarakat adat Indian yang paling konsisten, khususnya dari suku terbesar Quecha dan Aymara. Pada saat yang sama, Bolivia menjadi target utama bagi penerapan kebijakan neoliberal, seperti privatisasi sektor air dan pertambangan, dan pemotongan anggaran untuk publik. Akibat dari kebijakan neoliberal ini, kesenjangan sosial semakin melebar, tingkat kesejahteraan hidup penduduk asli Indian semakin rendah, dimana menurut laporan Bank Dunia pada 2004, 74% masyarakat adat Bolivia hidup di bawah garis kemiskinan. "Hampir dua per tiga masyarakat Indian adalah miskin di antara 50 persen penduduk termiskin. Jika distribusi berjalan sempurna, masyarakat adat Bolivia harus menerima pendapatan dua kali lipat lebih banyak di banding penduduk yang bukan masyarakat adat. Hanya dengan cara itu, mereka bisa tercerabut dari kemiskinannya," demikian tulis laporan itu.

 

Kebijakan neoliberal ini, berjalan beriringan dengan kepentingan pemerintah AS untuk menancapkan kukunya di kawasan Andean, dimana Bolivia menjadi batu loncatannya. Di negeri itu, Amerika mengkampanyekan perang melawan narkotika. Itu artinya perang melawan masyarakat adat Indian, yang sebagian besar secara tradisional merupakan petani koka. Perang melawan kokain itu diwujudkan dengan
dibentuknya satuan polisi khusus yang menangani perang melawan kokain ini. Tetapi, di balik kampanye bersenjata ini, tersembunyi kepentingan bisnis yang luar biasa besar yakni, menguasai sumberdaya alam terutama pertambangan, gas dan air. Itu sebabnya, walaupun ada operasi militer besar-besaran, produksi kokain di Bolivia kian meningkat dari tahun ke tahun. Ironi ini terus berjalan dari tahun
ke tahun.

 

Sejarah panjang perjuangan, kemiskinan dan diskriminasi masyarakat adat, serta kepungan neoliberalism dan hegemoni AS, tidak menyurutkan langkah Evo Morales untuk terlibat dalam perjuangan rakyat. Ia bahkan tampil sebagai pemersatu gerakan sosial yang terkotak-kotak. MAS sendiri bukanlah sebuah partai politik yang
solid dan terstruktur kuat. Ia lebih merupakan koalisi dari berbagai gerakan sosial, mulai dari gerakan tani, gerakan buruh hingga yang terkuat, gerakan masyarakat adat. Koalisi gerakan sosial dipandang sebagai metode terbaik untuk menghadapi gempuran neoliberalisme yang menghancurkan seluruh sektor kehidupan masyarakat. Dari sisi ini, tidak dikenal adanya kekuatan pelopor yang khusus, karena semuanya adalah pelopor. Mereka dipersatukan oleh kepentingan yang sama yang tercermin dalam platform MASnasionalisasi industri-industri strategis; pengurangan harga dan pembekuan harga barang-barang rumah tangga; penyediaan pelayanan dasar bagi semua; pembelaan terhadap pendidikan dan kesehatan gratis bagi publik; peningkatan pajak bagi kaum kaya; penghapusan korupsi; redistribusi lahan kerja; aparatus politik yang baru; penghapusan kebijakan ekonomi neoliberal; dan penentangan terhadap tenaga kerja "fleksibel."

 

Demikianlah, peranannya sebagai organiser, penggerak, dan pemimpin gerakan rakyat menjadikan Evo sebagai musuh nomor satu pemerintah AS. Ia dituduh sebagai seorang "narco-teroris," dan merupakan "ancaman bagi stabilitas" di kawasan itu. Mantan duta besar AS di Bolivia, Manuel Rocha, dalam pemilu presiden 2002, pernah mengancam rakyat Bolivia agar tidak memilih Evo, yang disebutnya sebagai "narco-cocaine producer" dan "instrument" dari  Hugo Chavez dan Fidel Castro. Jika rakyat tetap memilih Evo, maka pemerintah AS akan mempertimbangkan untuk menghentikan bantuannya kepada Bolivia ("I want to remind the Bolivian electorate that if you elect those who want Bolivia to become a major cocaine exporter again, this will endanger the future of U.S. assistance to
Bolivia
"). Hasilnya, dalam pemilu tahun itu, Evo hanya menempati posisi kedua.

 

Di sisi sebaliknya, Evo adalah perlambang dari sebuah masyarakat adat yang terpinggirkan, terisolasi dan terdiskriminasi. Ia adalah tokoh yang diharapkan bisa mengatasi kemiskinan dan marginalisasi masyarakat adat yang merupakan mayoritas. Dalam bahasa Luis Macas, presiden dari Confederation of Indigenous Nationalities of Ecuador (CONAIE), sebuah organisasi gerakan sosial yang paling kuat, kemenangan Morales merupakan peristiwa  sejarah yang belum pernah
terjadi sejak negeri itu merdeka dari penjajahan Spanyol sebad lalu. Kemenangan Evo bukan hanya kemenangan rakyat Bolivia tapi, juga kemenangan seluruh wilayah Amerika Latin. Ungkapan senada dilontarkan oleh Rigoberto Menchú, seorang aktivis suku Indian Mayan, penerima hadiah nobel perdamaian pada 1992. Baginya,
kemenangan Morales merupakan angin segar bagi penduduk asli, bahwa kemenangan Morales "merupakan sebuah preseden penting bagi perjuangan sosial di seluruh wilayah." Tetapi Menchú mengingatkan, tugas yang dihadapi Evo sangatlah kompleks dan ribet. "Karena ia akan memimpin sebuah negeri dimana rasisme dan
diskriminasi telah begitu dalam berakar, disamping masalah-masalah ekonomi yang serius, kemiskinan dan pembelahan sosial dan politik."

 

 

Satu Tanggapan

  1. ekonomi , kemiskinan dan pembelahan sosial dan politik.”
    harus bisa kita hadapi dengan kepala dingin..

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: