Etos Kerja Jepang

Aq dapetin dari sumber berikut :

http://lowongancpns.blogsome.com/2007/12/31/etos-kerja-jepang/

December 31, 2007
Tulisan ini tidak bertutur tentang legenda Bangsa Samurai dahulu
kala; namun berkisah tentang Jepang saat ini. Dongeng di sini
berarti sesuatu yang mengherankan bila disandingkan dengan kondisi
keseharian di tanah air. Meski Jepang bukanlah negeri dongeng yang
sempurna, ada nilai-nilai kebaikan universal terealisir yang menarik
untuk disimak dan diaplikasikan di tanah air tercinta.Tulisan ini merupakan fragmentasi keseharian saya, istri, dan
beberapa kawan dekat kami di Jepang.

01. Kantor pemerintahan dan pelayanan publik

Anda pernah m eli hat sekelompok semut? Nah, begitulah kira-kira
situasi kantor pemerintahan daerah di Jepang. Tidak ada “semut” yang diam
termangu, apalagi membaca koran; seluruh karyawan kantor
senantiasa bergerak, dari saat bel mulai kerja hingga pulang larut malam.
Tak habis pikir, saya tatap dalam-dalam “semut-semut” yang sedang bekerja
tersebut; kadang kala saya curi pandang: jangan-
jangan mereka sedang ber-internet ria seperti kebiasaan saya di
kampus. Ingin saya mengetahui makanan apa gerangan yang dikonsumsi para
pegawai itu sehingga mereka sanggup berjam-jam duduk,
berkonsentrasi, dan menatap monitor yang bentuknya tidak berubah
tersebut. Tata ruang kantor khas Jepang: mulai pimpinan hingga staf
teknis duduk pada satu ruangan yang sama – tanpa sekat; semua bisa m eli
hat bahwa semuanya bekerja. Satu orang membaca koran, pasti akan
ketahuan. Aksi yang bagi saya dramatis ini masih ditambah lagi
dengan aksi lari-lari dari pimpinan ataupun staf dalam melayani
masyarakat.

Ya, mereka berlari dalam arti yang sesungguhnya dan ekspresi
pelayanan yang sama seriusnya. Wajah mereka akan menatap anda dalam- dalam
dengan pola serius utuh dis eli ngi dengan senyuman. Saya
hampir tak percaya dengan perkataan kawan saya yang mempelajari
system pemerintahan Jepang, bahwa gaji mereka – para “semut”
tersebut – tidak bisa dikatakan berlebihan. Sesuai dengan standard upah
di Jepang. Yang saya baca di internet, mereka memiliki
kebanggaan berprofesi sebagai abdi negara; kebanggaan yang menutupi
penghasilan yang tidak berbeda dengan profesi yang lain.

Menyandang status mahasiswa, saya mendapatkan banyak kemudahan dan
fasilitas dari Pemerintah Jepang. Untuk mengurus berbagai keringanan
tersebut, saya harus mendatangi kantor kecamatan (kuyakusho) atau
walikota (shiyakusho) setempat. Beberapa dokumen harus diisi; khas
Jepang: t eli ti namun tidak menyulitkan. Dalam berbagai kesempatan saya
harus mengisi kolom semacam: apakah anda melakukan pekerjaan sambilan
(arubaito = part time job), apakah anak anda tinggal
bersama anda (untuk mengurus tunjangan anak), dsb. Dan dalam banyak hal,
pertanyaan-pertanya an tersebut cukup dijawab dengan lisan: ya atau
tidak. Tidak perlu surat-surat pembuktian dari “RT, RW,
Kelurahan” dsb. Saya percaya bahwa sistem yang baik selalu
mensyaratkan kejujuran.

Sistem berlandaskan kejujuran akan cepat maju dan meningkat,
sekaligus sangat efisien. Mengetahui bahwasanya saya adalah orang asing
yang kurang lancar berbahasa Jepang, saya
mendapatkan “fasilitas” diantar kesana-kemari pada saat mengurus
berbagai dokumen untuk mengajukan keringanan biaya melahirkan istri saya.
Hal ini terjadi beberapa kali. Seorang senior saya pernah
mengatakan, begitu anda masuk ke kantor pemerintahan di Jepang, maka
semua urusan akan ada (dan harus ada) solusinya. Lain hari saya
membaca prinsip “the biggest (service) for the small” yang kurang lebih
bermakna pelayanan dan perhatian yang maksimal untuk orang-
orang yang kurang beruntung.

Pameo “kalau ada yang sulit, mengapa dipermudah” tidak saya jumpai di
Jepang. Pada suatu urusan di kantor walikota (shiyakusho) saya diminta
untuk menyerahkan surat pajak penghasilan. Saya mengatakan bahwa saya
sudah pernah, di masa yang lalu, menyerahkan surat yang sama ke bagian
lain di kantor tersebut. Saya sudah siap dan pasrah seandainya mereka
menjawab bahwa saya harus mengurus kembali surat tersebut ke kantor
kecamatan sebelum saya pindah ke kota ini. Agak tertegun sekaligus lega
mendapat jawaban bahwa staf divisi tersebut akan mendatangi divisi lain
tempat saya pernah menyerahkan dokumen pajak saya sekian bulan yang lalu.
Dia akan mengkopinya dari sana .

Ambil jalan yang mudah, namun tetap mengedepankan ketelitian. Itulah yang
saya jumpai di Jepang.

Berstatus mahasiswa yang berkeluarga (baca: harus berhemat), kami sempat
terkejut melihat tagihan listrik bulanan yang melonjak
hingga 10 kali lipat.

Setelah melakukan pengusutan sederhana, tahulah kami bahwa ada
kesalahan pencatatan meter listrik oleh petugas – sebuah kesalahan yang
tidak umum di negeri ini. Segera saat itu pula saya telpon
perusaah listrik wilayah Kansai untuk mengkonfirmasikan kesalahan
tersebut. Berkali-kali kata sumimasen (yang bisa pula berarti maaf)
keluar dari mulut operator telepon. Saya menganggapnya sudah
selesai, karena operator berjanji untuk segera melakukan tindak
lanjut. Belum berapa lama meletakkan tas di laboratorium pagi itu, istri
menelpon dari rumah perihal kedatangan petugas listrik untuk meminta maaf
dan menarik slip tagihan. Setibanya di rumah malam
harinya, baru tahulah saya bahwa yang datang bukanlah sekelas
petugas lapangan (dari kartu nama yang ditinggalkannya) dan tahulah saya
bahwa dia tidak sekedar meminta maaf, karena bingkisan berisi sabun dan
shampo merk cukup terkenal menyertai kartu nama petugas tersebut. Saya
hanya berharap, waktu itu, bahwa petugas pencatat
yang k eli ru tidak akan bunuh diri. Karena kekeliruan dalam
bekerja, secara umum, menyangkut kehormatan di Negara ini.

Saya mengetahui dari sebuah perusahaan penyalur tenaga kerja di
Jepang akan sebuah paradigma “Bila anda datang ke kantor pada pukul 09.00
(jam resmi masuk kantor di Jepang) dan pulang pada pukul 17.00 (jam resmi
pulang kantor di Jepang), maka atasan dan kawan-kawan
anda akan mengatakan bahwa anda tidak memiliki niat bekerja”. Saya
membuktikan pameo tersebut, karena setiap hari saya bersepeda
melintasi kantor walikota (shiyakusho) . Sebagian besar lampu di
kantor itu masih menyala hingga pukul 20.00.

Dan beberapa kali saya jumpai staf kantor tersebut memasuki stasiun
kereta, juga sekitar pukul 20.00. Hal ini berarti, mereka semua
memiliki niat bekerja – versi Jepang.

02.Pasar, pertunjukan kejujuran dan perhatian

Suatu kali pernah kami memb eli sebungkus buah-buahan dengan bandrol
murah; favorit bagi kalangan mahasiswa asing seperti saya. Saya
sudah mengetahui bahwa ada sedikit cacat (gores atau bekas benturan) pada
permukaan beberapa buah-buahan – sesuai dengan harga murah yang
disematkan padanya. Pada saat kami hendak membayar buah tersebut, penjual
buah buru-buru menerangkan dan menunjuk-nunjuk kondisi
sedikit cacat pada beberapa buah-buahan tersebut, dan kembali
memastikan niat kami memb eli nya. Sembari tersenyum, tentu saja
kami mengatakan “daijobu” (tidak apa-apa),

karena kami sudah m eli hatnya dari awal. Beberapa kawan kami
mengiyakan pada saat kami menceritakan kejadian yang bagi kami cukup
mengherankan ini; ini berarti sikap jujur tersebut tidak dimonopoli oleh
satu-dua pedagang. Mereka mengerti betul bahwa kejujuran adalah prasyarat
utama keberhasilan dalam berdagang. Tidak perlu meraup
untung sesaat dalam jumlah besar, bila nantinya akan kehilangan
pelanggan.

Hingga hari ini, pada saat bertransaksi di kasir, kami selalu
menerima uang kembalian dalam jumlah yang utuh – sesuai dengan yang
tertera pada slip pembayaran. Tidak kurang, meski hanya satu yen
(mata uang terkecil di Jepang). Tidak ada “pemaksaan” untuk menerima
permen sebagai pengganti nominal tertentu. Selain kagum dengan
praktek berdagang yang baik ini, kami sekaligus kagum dengan sistem
perbankan Jepang yang mampu menyediakan uang recehan untuk pedagang dan
vending machine (mesin penjual otomatis) di se-antero

Jepang. Meski bagi sebagian kalangan, uang kembalian
terlihat “sepele”; hal ini bisa menyebabkan ketidakikhlasan pemb eli
terhadap transaksi jual-b eli .

Istri saya selalu berbelanja bersama anak-anak; dan
karena “keriangan” anak-anak, pada beberapa kasus, pak telur atau
buah-buahan bisa meluncur ke lantai. Dua kali terjadi beberapa telur
dalam satu pak pecah akibat keriangan anak-anak, dan satu kali m eli
batkan buah yang mudah penyok. Pada semua kejadian tersebut, petugas
supermarket m eli hat dan segera mengganti barang-barang tersebut dengan
yang baru. Padahal kami datang dengan wajah lelah dan pasrah untuk
membayarnya, karena kami menyadari benar bahwa ini adalah
kelalaian kami. Bahkan pada satu kasus, barang tersebut sudah
dibayar istri saya. Pada saat kami menerangkan bahwa ini semua
ketidaksengajaan anak-anak kami, dengan ramah petugas supermarket
menyahut “daijobu yo” (tidak apa-apa).

Pada saat berkesempatan mengunjungi sebuah negara lain di Asia
untuk sebuah konferensi, saya baru menyadari keramahtamahan petugas
supermarket di Jepang. Di Jepang, bila anda menanyakan keberadaan sebuah
barang, maka petugas tidak sekedar memberi arah petunjuk pada anda, namun
dia akan mengantarkan anda hingga berjumpa dengan barang yang dicari; dan
petugas baru akan meninggalkan anda setelah
memastikan bahwa everything is ok. Hal ini tidak berarti bahwa
jumlah petugas supermarket di Jepang demikian banyaknya hingga
mereka berkesempatan jalan-jalan di dalam supermarket yang sangat besar;
justru sebaliknya, jumlah petugas selalu sesuai benar dengan kebutuhan,
dan mereka selalu bergerak – seperti semut. Di sebuah
toko elektronik, seorang petugas yang menjelaskan spesifikasi
komputer yang anda tanyai adalah juga kasir tempat anda membayar
serta petugas yang melakukan packing akhir terhadap komputer yang anda b
eli .

03.Polisi, sistem yang bekerja dan melindungi

Kami sempat terheran-heran manakala pertama menginjakkan kaki di
Kobe demi m eli hat postur polisi dan kendaraannya yang tidak lebih gagah
dibandingkan dengan petugas pos di Indonesia. Benar, ini bukan metafora.
Memang ada pula polisi di tingkat prefecture (propinsi) yang gagah
mengendarai motor besar bak Chip – ini jumlahnya sedikit. Namun polisi
kota besar seukuran Kobe – salah satu kota metropolis di Jepang,
posturnya tidak segagah polisi yang sering saya jumpai di jalan-jalan
Republik. Anda tentu menganggap saya sedang bergurau
bila saya mengatakan bahwa motor polisi di Kota Kobe dan Ashiya
serupa benar dengan bebek terbang tahun 70-an. Saya tidak bergurau. Ini
Kobe dan Ashiya, dua kota di negara macan ekonomi dunia. Bebek terbang
tersebut dilengkapi dengan boks besi di bagian belakang – mirip dengan
petugas pengantaran barang kiriman. Namun, sekali bapak atau mbak polisi
ini menghentikan kendaraan, tidak pernah saya m eli hat ada diantaranya
yang berusaha lari. Tidak ada gunanya lari di negara dengan sistem
network yang sangat baik ini. Ke mana pun anda lari, kesitu pula polisi
dengan uniform yang serupa akan menghampiri anda. Pelan namun pasti. Saya
akhirnya mafhum, bahwa polisi di sini lebih pada fungsi kontrol dan
pengambilan keputusan (decision
maker) – kedua fungsi ini memang tidak mensyaratkan badan yang harus
berotot dan berisi. Tak heran saya m eli hat mas-mas polisi muda
berkacamata melakukan patroli dengan bebek terbangnya. Mereka hanya perlu
m eli hat, mengawasi, dan mengambil keputusan. Selebihnya,
sistem yang akan bekerja.

04.Lingkungan hidup dan transportasi

Jepang bukanlah negara dengan penduduk kecil. Populasi negara ini hampir
separuh populasi Republik tercinta.

Di sisi lain, wilayah negara ini didominasi oleh pegunungan yang
sulit untuk dihuni. Pegunungan yang tetap hijau, membuat saya
menduga bahwa Pemerintah Jepang memang sengaja membiarkan kehijauan
melekat pada daerah pegunungan tersebut. Tokyo adalah kota besar
dengan jumlah penduduk terbesar se-dunia, mengalahkan New York dan
berbagai kota besar di mancanegara. Besarnya penduduk, sempitnya
dataran yang bisa dihuni, dan tingginya tingkat ekonomi mensiratkan dua
hal: kerapian dan kebersihan. Anda akan sangat kesulitan
menjumpai sampah anthrophogenik (akibat aktivitas manusia) di jalan- jalan
di Jepang. Kemana mata anda memandang, maka kesitulah anda
akan tertumbuk pada situasi yang bersih dan rapi. Orang Jepang
meletakkan sepatu/alas kaki dengan tangan, bukan dengan kaki ataupun
dilempar begitu saja. Mereka menyadari bahwa ruang (space) yang
mereka miliki tidak luas, sehingga semuanya harus rapi dan tertata.
Sepatu dan alas kaki diletakkan dengan posisi yang siap untuk
digunakan pada saat kita keluar ruangan. Hal ini sesuai dengan
karakteristik mereka yang senantiasa well-prepared dalam berbagai hal.
Kadang saya menjumpai kondisi yang ekstrim; seorang pasien yang sedang
menunggu giliran di depan saya berbicara dan menggerakkan
anggota tubuhnya sendiri. Saya tahu bahwa ruang periksa di hadapan kami
bukan ditempati psikiater ataupun neurophysicist. Belakangan saya tahu
dari kawan yang belajar di bidang kedokteran, boleh jadi pasien tersebut
sedang mempersiapkan dialog dengan dokternya.

Transportasi di Jepang didominasi oleh angkutan publik, baik bus, kereta
(lokal, ekspres, super ekspres), shinkansen, dan pesawat
terbang (antar wilayah). Baiknya sistem dan sarana transportasi di Jepang
membuat anda tidak perlu berkeinginan untuk memiliki
kendaraan sendiri – kecuali bila anda tinggal di country-side yang tidak
memiliki banyak alat transportasi umum. Kereta dan shinkansen (kereta
antar kota super ekspres) mendominasi moda transportasi di Jepang. Sebuah
sumber yang saya ingat menyebutkan bahwa kepadatan lalu lintas kereta di
Jepang hádala yang tertinggi di dunia. Di
Jepang, kereta dan shinkansen digerakkan menggunakan listrik. Hal ini
tidak menyebabkan polusi udara di perkotaan, karena listrik
diproduksi terpusat. PLTN sebagai salah satu sumber pemasok utama energi
listrik di Jepang, tentu saja, juga berkontribusi pada
rendahnya polusi udara karena, praktis, PLTN tidak mengemisikan CO2.

Nasehat “tengoklah duru kiri dan kanan sebelum menyeberang jalan” mungkin
tidak sangat penting untuk diterapkan bila anda menyeberang di tempat
yang telah disediakan di Jepang. Anda cukup menunggu
lambang pejalan kaki berubah warna menjadi hijau; insya Allah anda akan
selamat sampai ke seberang – tanpa perlu menengok kiri dan
kanan. Saat berkesempatan mengunjungi kota besar lain di Asia,
kebiasaan menyeberang ala Jepang sempat membuat saya hampir
terserempet motor; lampu hijau saja ternyata tidaklah cukup di kota ini.

05.Kesehatan dan rumah sakit

Jepang mengerti benar bahwa orang-orang yang sehatlah yang lebih
mampu memajukan bangsa dan negaranya.

Mahasiswa di tempat saya belajar, Kobe University, wajib melakukan
pemeriksaan kesehatan (gratis) setahun sekali. Fasilitas kesehatan di
Jepang mendapat perhatian yang tinggi dari pemerintah. Sebagai orang
asing, mahasiswa pula, kami dianjurkan untuk mengikuti program asuransi
nasional. Dengan mengikuti program ini, kami hanya perlu membayar 30%
dari biaya berobat.

Dari yang 30% tersebut, sebagai mahasiswa asing, saya akan
mendapatkan tambahan potongan sebesar 80% (yang belakangan turun
menjadi 35%) dari Kementrian Pendidikan Jepang. Berstatuskan
mahasiswa, kami membayar premi asuransi per-bulan yang jauh lebih kecil
dibandingkan dengan orang kebanyakan. Dari laporan rutin yang dikirimkan
oleh pihak asuransi kepada kami, tahulah saya bahwa
ongkos berobat kami selalu (jauh) lebih besar dari premi asuransi yang
saya bayarkan setiap bulannya. Berbekal kartu asuransi
nasional, datang ke rumah sakit ataupun ke klinik swasta bukan lagi
menjadi hal yang menakutkan bagi keluarga kami di Jepang. Jangan
membayangkan bahwa pihak rumah sakit atau klinik swasta akan
memberikan perlakuan yang berbeda kepada para pemegang kartu
asuransi – apalagi untuk kami yang mendapatkan kartu tambahan khusus
keluarga tidak mampu. Para dokter dan perawat melayani dengan
keramahan yang tidak berkurang serta prosedur yang sama
sederhananya. Keramahan di sini berarti keramahan yang sebenar-
benarnya. Baik anda kaya ataupun miskin, proses masuk dan keluar
dari rumah sakit di Jepang adalah sama mudahnya. Saat istri
melahirkan di rumah sakit pemerintah di Ashiya, saya disodori
formulir yang berisi opsi pembayaran: tunai, lewat bank, dll. Tidak
menjadi sebuah keharusan bagi seorang pasien untuk menyelesaikan
kewajiban pembayaran di hari dia harus keluar dari rumah sakit.
Alhamdulillah kami mendapatkan keringanan biaya melahirkan dari
Pemerintah Kota Ashiya; selain bisa melenggang dari rumah sakit
tanpa bayar pada hari itu, tagihan dari Kantor Walikota (setelah
dipotong subsidi dari pemerintah) juga baru datang dua bulan
kemudian.

Saling percaya adalah kuncinya.

Yuli Setyo Indartono. Mahasiswa S3 di Graduate School

Satu Tanggapan

  1. inilah yang harus bisa kita laukukan:
    Saling percaya adalah kuncinya…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: