Nasionalisasi Sumber Minyak di Venezuela

tulisan ini juga disajikan dalam website

http://perso.club-internet.fr/kontak

 

 

PELAJARAN BERHARGA UNTUK INDONESIA :

Nasionalisasi Sumber Minyak di Venezuela

 

Catatan A. Umar Said

 

 

Berita yang cukup « mengagetkan » kalangan maskapai-maskapai besar multinasional di dunia, khususnya yang bergerak di bidang minyak, yaitu tentang nasionalisasi 2 lapangan minyak di Venezuela yang dikelola TOTAL SA (Perancis) dan ENI (Italia), tentunya akan menarik perhatian berbagai kalangan Indonesia juga, yang baru-baru ini kecewa, atau marah, atau sedih dengan apa yang terjadi dengan proyek pertambangan minyak Cepu yang operasinya jatuh di tangan ExxonMobil.

 

Tindakan presiden Venezuela  Hugo Chavez terhadap beberapa puluh maskapai minyak asing yang beroperasi di negara yang cadangan minyaknya sekarang diperkirakan terbesar di dunia ini menunjukkan bahwa Venezuela yang kecil dan hanya berpenduduk 25 juta orang itu berani melawan kesembarangan banyak perusahaan multinasional dan berbagai pemerintah (termasuk AS !) untuk membela kepentingan nasionalnya. Berbagai informasi yang berikut di bawah ini sangat menarik untuk dibandingkan dengan apa yang terjadi di Indonesia dengan kasus Exxon di Cepu, Newmont, Total, Caltex, Freeport dan lain-lainnya :

 

Selain mensita 2 lapangan minyak, pemerintahan Hugo Chavez juga mengharuskan beberapa puluh maskapai minyak asing yang beroperasi di Venezuela untuk meninjau kembali atau memperbarui kontraknya atau mendirikan perusahaan joint-venture. Presiden Hugo Chavez mengatakan bahwa kalau maskapai-maskapai asing itu tidak setuju dengan perubahan-perubahan kontrak yang diusulkan pemerintahan Venezuela, “maka maskapai-maskapai itu supaya mencari keuntungan di negara-negara lainnya di dunia.”. 

 

Menurut berita Associated Press (3 April 2006) presiden  Hugo Chavez memperketat pencengkeramannya terhadap sumber-sumber energi Venezuela, dan mengancam menghukum maskapai-maskapai internasional yang melawan penguasaan atau kontrol pemerintah atas sumber-sumber minyak yang menjadi milik bangsa (threats to punish international companies that resist government control of the nation's oil fields)

 

Menteri Urusan Minyak Venezuela, Rafael Ramirez mengatakan di depan konferensi pers tanggal 3 April bahwa negaranya telah mensita dua lapangan minyak dari maskapai TOTAL SA dan ENI SpA karena kedua maskapai tersebut tidak mau menyerahkan kembali pengelolaan lapangan minyak kepada perusahaan minyak negara Venezuela, Petroleos de Venezuela SA. « Kedua maskapai itu melawan untuk mematuhi undang-undang kita, dan karenanya sekarang penguasaan seluruhnya  dan absolut atas lapangan minyak itu jatuh di tangan Petroleos de Venezuela SA » kata Ramirez.

 

Kontrak untuk 32 lapangan minyak

 

Sebelum disitanya dua lapangan minyak itu, TOTAL  dan ENI, seperti beberapa puluh maskapai asing lainnya, mengebor minyak Venezuela atas dasar kontrak. Berbagai maskapai lainnya, antara lain ExxonMobil Corp., memutuskan untuk menjual saham yang ditanam dalam 32 lapangan minyak Venezuela, dari pada mematuhi syarat-syarat atau ketentuan-ketentuan baru yang ditetapkan oleh pemerintah Venezuela.

Mengenai ini Ramirez mengatakan bahwa terhadap perusahaan-perusahaan asing yang tidak menyesuaikan diri dengan undang-undang yang baru, Venezuela tidak menginginkan kehadiran mereka di negeri kita (we don't want them to continue in the country)

Pensitaan lapangan minyak yang dilakukan baru-baru ini  merupakan tahap permulaan dari Hugo Chavez untuk mendapat lebih banyak pendapatan dari maskapai-maskapai asing yang memompa minyak dari 32 lapangan minyak Venezuela. Tahun yang lalu pemeritah Venezuela minta kepada maskapai-maskapai swasta asing itu untuk merobah kontrak mereka dengan menjadikannya sebagai joint-venture atau mixed company bersama Petroleos de Venezuela SA, dengan pembagian saham sedikitnya 60% untuk perusahaan minyak negara Venezuela ini.

Banyak maskapai-maskapai asing ini  menerima tawaran syarat-syarat baru ini tanpa banyak perlawanan, karena berpendapat bahwa meskipun lebih banyak uang yang masuk kas negara Venezuela, mereka toh masih mendapat keuntungan juga.

20 maskapai menandatangani kontrak baru

Ramirez mengatakan bahwa sebanyak 20 maskapai asing telah menandatangani ketentuan-ketentuan  hukum yang baru dalam rangka membentuk joint-venture untuk pengelelolaan 25 lapangan minyak. Di antara maskapai-maskapai itu terdapat REPSOL YPF (perusahaan campuran  Spanyol-Argentina),  Royal Dutch Shell, China National Petroleum.

Menurut direktur Petroleos de Venezuela SA dirubahnya kontrak-kontrak menjadi joint-venture yang baru itu memungkinkan negara Venezuela menghemat $31 miliar dalam 12 tahun.  Karena, dengan kontrak-kontrak yang lama, perusahaan minyak negara Petroleos de Venezuela SA terpaksa harus membeli minyak dari maskapai-maskapai asing itu dengan harga lima kali lipat dari ongkos pengeboran.

Menteri Urusan Minyak Ramirez mengatakan tuntutan TOTAL untuk mendapatkan saham yang lebih banyak, dalam joint-venture yang baru, sebagai tuntutan yang tidak dapat diterima (unacceptable). Dalam persetujuan tahun 1993 perusahaan minyak negara Venezuela (Petroleos de Venezuela SA)  memberikan saham 55%  untuk minyak yang dipompa oleh TOTAL dari lapangan minyak Jusepin.

 « Kita siap untuk menghadapi pengadilan di langit »

Sementara itu maskapai Italia ENI SpA memprotes Petroleos de Venezuela SA yang telah mensita lapangan minyak Dacion dan menuntut ganti kerugian atas dilanggarnya persetujuan. Tetapi pihak Petroleos de Venezuela SA mengatakan bahwa kontrak dengan ENI itu sudah habis dan akan membiarkan para pegawainya untuk mengelola ladang minyak itu. ENI yang mempunyai saham 100% dalam ladang minyak Dacion  itu menyatakan akan mengambil tindakan hukum kalau sampai tidak tercapai persetujuan.

Yakin akan kebenaran dan keadilan  dalam membela kepentingan nasionalnya, pemerintah  Venezuela rupanya sudah siap menghadapi konfrontasi dengan maskapai-maskapai asing itu. Menteri Urusan Minyak Venezuela Ramirez mengatakan bahwa pemerintahnya “siap untuk pergi ke pengadilan di langit kalau mereka mau”, ("we're ready to go to the celestial court if they want ») dan memperingatkan bahwa maskapai-maskapai asing yang terlibat dalam konfrontasi semacam itu tidak akan diikutsertakan dalam proyek-proyek yang akan datang di Venezuela yang mempunyai cadangan minyak sangat besar itu.

Pemerintah Venezuela juga menyatakan bahwa ENI dan TOTAL mempunyai tunggakan pajak jutaan dollar. Sejumlah maskapai lainnya telah memilih menjual sahamnya dari pada menghadapi perubahan-perubahan yang dilakukan pemerintah Venezuela. Di antara yang menjual saham ini terdapat IRVING, CONOCO PHILLIPS, CHEVRON,  EXXONMOBIL. Perusahaan minyak Norwegia STATOIL ASA melepaskan sahamnya 27% di ladang minyak danau Maracaibo kepada perusahaan minyak negara Petroleos de Venezuela SA.

Baru-baru ini Menteri Minyak Ramirez mengatakan bahwa kehadiran EXXONMOBIL di Venezuela tidak lagi disukai karena maskapai ini melawan kenaikan pajak dan menentang perubahan-perubahan dalam kontrak, yang merupakan kebijakan pemerintahan Hugo Chavez dalam me-renasionalisasi industri perminyakan.

Venezuela akan melampaui Saudi Arabia

Berbagai kalangan dalam industri minyak memperkirakan bahwa Venezuela menguasai simpanan minyak sampai 1,3 triliun barrel. Jumlah ini sama dengan seluruh jumlah persediaan minyak seluruh dunia. Presiden Hugo Chavez mengtakan bahwa “Venezuela memiliki sumber minyak yang terbesar di dunia. Di masa depan nantinya Venezuela tidak punya minyak lagi, tetapi itu masih akan terjadi 100 tahun lagi.”

Hugo Chavez akan minta kepada sidang OPEC di bulan Juni yang akan datang, untuk mengukuhkan secara resmi bahwa persediaan minyak Venezuela sekarang ini sudah lebih besar dari pada Saudi Arabia. Kedudukan Venezuela dalam OPEC makin kelihatan menonjol, karena keberanian pemerintahnya mengambil tindakan-tindakan untuk melindungi kepentingan nasionalnya dan melawan maskapai-maskapai internasional. Venezuela mengadakan kerjasama dengan perusahaan-perusahaan minyak negara di Tiongkok (dengan CNPC), India (dengan ONGC), dan Iran (dengan Petropars).

Berbagai kalangan memperkirakan bahwa setiap harinya sekitar $200 juta hasil minyak masuk ke kas negara Venezuela, dan lebih dari separonya datang dari pasaran Amerika Serikat. Kelihatannya, dalam menghadapi persoalan minyak dari Venezuela ini Washington dalam posisi terjepit. Karena kebutuhan minyak besar sekali maka AS tepaksa harus mengimpor banyak minyak dari Venezuela sampai bermilyar-milyar dollar, meskipun permusuhan antara Venezuela dan Washington makin meruncing.

Washington tidak senang dengan pemerintahan Hugo Chavez, yang selain memusuhi AS terang-terangan dan dengan sikap keras, juga dianggap penyebar ketidak-stabilan di benua Amerika Latin. Dengan melimpahnya uang dari minyak, pemerintahan Hugo Chavez bisa menjual minyak dengan harga murah untuk Ekuador dan negara-negara kecil di Karibia, bahkan  sampai juga menolong orang-orang yang tidak mampu di AS. Washington menuduh Hugo Chavez “membeli” pengaruh di banyak negeri, dengan uang yang didapat dari minyak.

Ancaman AS terhadap Hugo Chavez

Tindakan-tindakan pemerintahan Hugo Chavez dalam memaksa begitu banyak maskapai-maskapai besar multinasional di bidang minyak  untuk mematuhi peninjauan kembali kontrak-kontrak ini - dan bahkan sampai mensita 2 di antaranya - telah merupakan kejadian penting sekali  dan cukup “mengagetkan” dalam dunia bisnis internasional. Dalam rangka perjuangan rakyat berbagai negeri melawan neo-liberalisme dan globalisasi, dimana perusahaan-perusahaan raksasa multinasional juga memainkan peran besar, maka apa yang terjadi di Venezuela memberikan semangat atau inspirasi bagi banyak orang.

Dapat diduga bahwa menghadapi kekuasaan  yang begitu berani dari pemerintahan Hugo Chavez, perusahaan-perusahaan raksasa multinasional bersama berbagai pemerintahan (terutama AS) tidak akan tinggal diam dan membiarkan pemerintahan Hugo Chavez terus-menerus melakukan politik yang  merugikan kepentingan mereka.

Berbagai sumber memberikan informasi bahwa Amerikat Serikat sedang terus berusaha mengisolasi Venezuela, yang sekarang dianggap lebih berbahaya dari pada Kuba. Menteri Luar negeri Venezuela mengatakan bahwa serangan AS terhadap Venezuela bisa saja terjadi setiap waktu, dan gejala-gejalanya sudah nampak dengan lebih jelas.

Tetapi, serangan AS terhadap Venezuela akan membawa akibat buruk yang besar sekali, bagi hubungan AS dengan berbagai negara Amerika Latin, dan juga di benua lainnya. Di samping itu supply minyak sebesar 1,5 juta barrel per hari untuk pasaran AS akan terputus, sehingga akan menimbulkan kesulitan-kesulitan transport dan ekonomi yang tidak ada taranya bagi AS. Presiden Hugo Chavez meramalkan bahwa harga minyak akan bisa membubung sampai $150-$200 per barrel, kalau Venezuela diserang AS.

Memang, cepat atau lambat,  mungkin sekali AS akan bertindak terhadap pemerintahan Hugo Chavez, yang sudah dianggap “keterlaluan” dalam sikapnya yang menghina Bush beserta pembesar-pembesar AS lainnya dan membahayakan lebih lanjut pengaruh AS di berbagai negeri.

Kalau ini terjadi, maka situasi dunia bisa menjadi geger, dan sulit dibayangkan apa saja yang akan menjadi buntutnya.

 

Paris, 7 April 2006

About these ads

Satu Tanggapan

  1. mudah-mudahan AS
    bisa memaafkan kesalahan pemerintahan Hugo Chavez
    jadi dengan begitu tidak akan ada persaeisihan lagi…

    amiin..:)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: